TRAVEL STORY

Wisata Sumba Timur – Air Terjun Tanggedu

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Cakep ya! Itu Air Terjun Tanggedu, air terjun di Sumba Timur yang kece banget. Semakin wow air terjunnya, semakin “wow” juga perjalanannya. Air terjun Tanggedu menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Sumba Timur.

Puru Kambera

Siang berganti sore, pemandangan silih berganti. 2 jam dari kota Waingapu kami tempuh menuju Air Terjun Tanggedu di Sumba Timur. Kami? Yes, gue dan 3 orang yang baru gue kenal, termasuk driver. It’s an art of being solo traveler. Sedikit cerita, perjalanan gue ke Sumba kali ini untuk penelitian, berhubung hari Senin, 12 Desember 2016 itu tanggal merah, maka semua kantor pemerintahan tutup. Jadi, gue (dadakan) memutuskan ke Air Terjun Tanggedu. Driver yang mengantar siang itu namanya Hendry, dia cukup jago moto. Sebelum ke air terjun, dia mampir dulu beli kapur sirih, buat “cemilannya” sepanjang jalan. 

 

Kuda di Puru Kambera Indonesia A-Z
Kuda di Puru Kambera

Pemandangan dari Bukit Wairinding berganti menjadi perkotaan, kemudian menjadi savana kering dengan kuda. Kami di jalan yang benar, yaitu melewati Puru Kambera dan terus menuju ke utara. Ga cuma kuda di kejauhan, sekawanan sapi melintas persis di sebelah mobil kami. Persis di jendela sebelah gue yang kacanya terbuka. Untung sapi! Hebat sih, sapi-sapi ini rapih dan perlahan jalannya.

 

Sapi di Puru Kambera Indonesia A-Z
Sapi di Puru Kambera

 

Perjalanan ke Tanggedu

Mobil terus ke utara, kemudian berbelok ke kiri, ya, kami menuju ke Desa Mondu. Jalanan masih beraspal halus. Sampai akhirnya kami tiba di persimpangan jalan dan mobil berbelok ke kiri, ke jalan (yang menurut gw) kecil. Rumah penduduk mulai jarang. Jalanan menanjak dan rusak di beberapa titik. Kering. Satu kata yang menggambarkan perjalanan siang itu. Tidak ada sinyal, tidak ada makhluk hidup selain kami berempat di dalam mobil. Hahah kesannya serem yak! Ga serem kok, tapi ya memang hanya mobil kami di jalan itu.

 

Jalan berliku menuju Tanggedu Indonesia A-Z
Jalan berliku menuju Tanggedu

 

Lurus. Menanjak. Belok. Turun. Belok. Sempat mikir, jalanan ini ga ada ujungnya. Haha.. Sampai akhirnya mobil keluar dari balik bukit. Hm, jalan itu membelah bukit, jadi berasa keluar dari sebuah gerbang. Dan… Amazing! Persis di sebelah kanan mobil itu tebing. Di bawah tebing ada jalan yang nyambung ke bukit di seberang. Wow! Entah ya, gue rada norak, belum pernah lihat jalur nyata kayak gini. Dan kata Hendry, kita memang akan melewati bukit di sebrang sana.

 

Perbukitan menuju Tanggedu Indonesia A-Z
Perbukitan menuju Tanggedu

 

Oke, perjalanan masih panjang. Dan ya benar, sekitar 40 menit kemudian kami baru sampai di sebuah halaman. Ada beberapa rumah di situ. Setelah menitipkan mobil di halaman, kami mulai menuruni bukit. Rasanya seperti jalan di bukit penyesalan Rinjani, ga abis-abis, men! Dari nanjak, turun ke sungai, lewatin padang gersang, sampe akhirnya ada spanduk Tanggedu, tiket masuk Rp 5000. Di pikiran gue kali ini, berarti sebentar lagi sampe. Salah kostum karena ga pakai sandal untuk treking dan pakai celana jeans. Ga tau medan yang bakal gue lewatin kayak gini, bayangan gue kayak Air Terjun Lapopu atau Laputi yang trekingnya santai. Ternyataa…. Jalan kaki selama 1 jam, entah berapa kilometer.

 

Gerbang masuk Tanggedu (2016) Indonesia A-Z
Gerbang masuk Tanggedu (2016)

 

Air Terjun Tanggedu

Jadi pelajaran sih, cari info lengkap sebelum memutuskan satu destinasi. Salah satunya biar ga salah kostum. Siang itu gw pake kaos dan celana jeans pendek, sandal gunung yang tipis, dan bawa ransel yang isinya laptop. Ga mungkin kan ransel laptop ditinggal di mobil. Mungkin kalau gue pake sandal gunung yang tebal atau sepatu kets lebih baik, ditambah lagi ga pake jeans pendek. 

Air Terjun Tanggedu yang membentuk sungai Indonesia A-Z
Sisi kanan Air Terjun Tanggedu yang membentuk sungai

 

Pas ada suara aliran air, rasanya bahagia. Begitu lihat air terjunnya, bahagia pake banget! Huaaa ini unik sih. Nengok ke kanan, mirip Cunca Wulang di Flores, nengok ke kiri beda lagi. Cakep banget si Tanggedu! Gue ke sisi kanan dulu, turun dengan hati-hati dan pastikan injek batu kering. Tips ke air terjun dari gw adalah jangan pakai sandal jepit, supaya menghindari kepeleset di batu licin. Ga lama gw di sisi sebelah kanan, gw bergerak ke sisi sebelah kiri.

 

Sisi kiri Air Terjun Tanggedu Indonesia A-Z
Sisi kiri Air Terjun Tanggedu

 

Air terjun ini unik, tebing-tebing batu ini seperti dipahat dan ada kolam-kolam kecil di bebatuan. Bisa kok berenang dan main air di sini. Berhubung ga bawa baju ganti dan bawa laptop, jadi gue duduk-duduk kece aja di bebatuan. Di sisi lain air terjun ini seperti tirai, ada kolam di bawahnya. Jadi kalau duduk di tengah-tengah terus melihat ke sekeliling, pemandangannya beda-beda. Ah, kece banget! Tapi… mesti inget waktu, sebelum gelap, kami balik ke parkiran karena ga ada lampu sepanjang perjalanan. Takut hujan juga sih. Treking hujan itu tingkat kesulitan jadi minimal dua kali lipat.

 

Sisi lain Air Terjun Tanggedu Indonesia A-Z
Sisi lain Air Terjun Tanggedu

Fasilitas di Tanggedu

Di perjalanan pulang ke parkiran, kami papasan dengan sapi-sapi yang akan pulang ke kandang. Jelas kawanan sapi yang beda, tapi sama-sama tertib. Si sapi berhenti dan membiarkan kami lewat terlebih dulu. Waktu pulang lebih cepat, 40 menit kemudian kami sudah sampai di parkiran. Kami melewati punggung bukit yang kami lihat dari tebing sebelumnya. Oiyah, jangan berharap ada kamar mandi, tempat sampah, atau warung penjual makanan sepanjang perjalanan dan di Tanggedu. Siapkan semua perbekalan dari kota. Sampah sisa bungkus makanan dan minuman dibawa balik lagi ya! Tanggedu beberapa bulan lalu masih bersih, berharap terus bersih seperti kemarin.

 

WC yang ada di rumah warga sebelum ke Tanggedu Indonesia A-Z
WC yang ada di rumah warga sebelum ke Tanggedu

 

Tips ke Air Terjun Tanggedu
  1. Pakai pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk treking
  2. Bawa perbekalan dari kota karena tidak ada warung sepanjang perjalanan selepas Puru Kambera
  3. Bawa kembali semua sampah, jangan meninggalkan sampah apapun di sana
  4. Saat musim hujan, pemandangannya hijau, namun air terjun cenderung keruh. Saat musim kemarau padang sabana kering, namun air terjun cenderung jernih

Jadi, kapan kamu mau ke Tanggedu?