Walking Tour dan 10 Kuliner Passer Meester
Dulu waktu kecil sering banget diajak ke Passer Meester buat belanja atau ke salon langganan keluarga, berasanya biasa aja. Ternyata sekarang sekangen itu buat balik ke Passer Meester dan katanya ini rute walking tour Jakarta Good Guide yang banyak jajanan. Jadi tujuan gue ikutan walking tour rute ini untuk jajan di pasar.
Cara Menuju ke Passer Meester
Meeting point di Monumen Perjuangan Jatinegara, gue cek di Google Map paling cepat pakai kereta turun di Stasiun Matraman, kemudian naik jembatan penyebrangan ke arah Halte Trans Jakarta Matraman Baru. Yes, Monumen Perjuangan persis di pintu keluar Halte Matraman Baru. Peserta walking tour pagi itu cukup banyak walaupun gerimis, dibagi ke 3 group dan gue pertama kali dengan Maha sebagai guide.
Passer Meester berasal dari nama Meester Cornelis yang merupakan guru agama Kristen dari Banda, meester = mister = tuan. Saat ini Passer Meester atau Pasar Mester dikenal juga dengan nama Pasar Jatinegara. Tidak jauh dari Pasar Mester ini ada area yang disebut Rawa Bunga (sekitar Stasiun Jatinegara), yang dulunya disebut Rawa Bangke karena merupakan tempat pembuangan jenazah.
Monumen Perjuangan dan GPIB Koinonia

Rute Passer Meester dimulai dari Monumen Perjuangan, patung orang dewasa dan anak kecil yang menggambarkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tapi enak kecil juga ikut berjuang. Kemudian kami menyebrang ke arah Gereja GPIB Koinonia (cagar budaya), yang dulunya pernah menjadi Gereja Bethel. Yang menarik adalah saat Idul Fitri, jalan raya sekeliling gereja digunakan untuk sholat Ied.
Kantor Pos Jatinegara

Dari gereja, kami bergerak ke arah pasar melewati Kantor Pos Jatinegara, masih beroperasi sampai saat ini, namun “bus surat” dan “PO-Box” sudah tidak digunakan. Kantor pos ini merupakan cagar budaya yang dibangun tahun 1931 dan merupakan bangunan baru pengganti kantor pos pembantu pertama di wilayah Meester Cornelis pada awal abad ke-20.
Vihara Amurva Bhumi

Dari kantor pos lanjut jalan ke arah pasar dan berbelok ketika ada warung sate, sampai akhirnya masuk ke area pasar dan ada Vihara Amurva Bhumi. Sesuai dengan namanya dewa utama di sini adalah Dewa Bumi. Biasanya para pedagang akan doa di sini pada pagi hari. Ini adalah bangunan terakhir yang kami lewati sebelum masuk ke area Gang Tai dan Passer Meester untuk jajan.
1. Warung Sate Keroncong (belakang Pasar Mester)

Nama aslinya adalah Warung Sate Sederhana, tapi karena ada pemain keroncong di sini dikenal dengan nama Sate Keroncong. Menjual sate kambing, tongseng dan gulai. Berbeda dengan warung sate yang biasanya buka malam, sate ini buka dari pagi sampai sore. Gue ga coba karena masih pagi ketika lewat, info dari guide, seporsi sate Rp75.000.
2. Cakwe Wastafel – Gang Tai

Kita masuk ke Gang Tai! Dinamakan seperti ini karena dulunya tempat pembuangan sehingga bau seperti kotoran (tai). Persis di depan gang ini ada cakwe yang hits, Cakwe Wastafel. Dinamakan seperti itu karena digoreng di wastafel bukan kuali. Hanya ada 2 menu, cakwe dan kue bantal, masing-masing Rp2.500. Gue coba cakwe dengan sambal merah, kayak nostalgia SD banget rasanya. Lebih suka cakwe dibanding kue bantalnya. Cakwenya kering ga terlalu berminyak, enak! Bisa bayar dengan QRIS.
3. Combro Ibu Aminah – Gang Tai

Dari cakwe, jalan lurus ke dalam Gang Tai, ada combro terkenal sejak 1990, Combro Ibu Aminah. Semua harga makanan di sini Rp3.500, selain combro ada misro, martabak, gandasturi, getuk, timus, dan roti goreng. Gue beli 2 combro, enak pas masih hangat, waktu sudah dingin, berminyak banget rasanya. Bisa bayar dengan QRIS.
4. Kue Soes Toko Insi dan Siomay

Masuk ke dalam pasar berhenti di Toko Kue Insi, persis di pertigaan, antri panjang untuk kue soes Rp6.000/pcs (bisa QRIS), ada isi coklat dan vanila, gue coba dua-duanya. Choux-nya enak, tapi isinya B aja. Sambil nunggu antrian, gue melipir ke sebelahnya ada yang jual siomay, tahu baso, baso ikan, dan lainnya. Siomaynya menarik banget, ayam udang Rp20.000/pack, gue beli ini dan enak! Siomay di sini harus bayar cash. Info orang rumah, baso ikan di sini juga enak (dulu orang rumah sering belanja di sini).
5. Gohyong dan Siomay Wawa

Belok ke kiri dari Toko Insi ada Siomay Wawa, yang hits banget, ada gohyong juga. Gue penasaran, beli lagi haha, 1 pack siomay Rp20.000 dan 1 gohyong Rp25.000. Harus bayar dengan cash. Siomaynya langsung gue coba, ternyata gue lebih suka siomay di sebelah Toko Insi karena lebih berdaging. Siomay Wawa oke, lebih besar, tapi lebih keras dan kenyal. Disclaimer: ini selera dan pendapat pribadi ya.
6. Kue Lapis Iin
Pas mampir kemarin, lagi ga baking, jadi ga ngerasain aroma wanginya. Di sini menjual kue lapis loyangan dan kue kering. Kue lapis di sini enak! Gue ga beli kemarin, tapi orang rumah biasanya beli di sini. Masih area pasar, tapi masuk area rumah penduduk.
7. Gelora Bakery

Lurus dari toko kue lapis kemudian belok kiri, ada Toko Roti Gelora, roti jadul yang ternyata enak banget! Selain jual roti, mereka menjual biskuit, yang terkenal butter cookies dan specullas-nya, ada tester di sini. Tempat belanjanya kecil, jadi lumayan heboh dengan 3 rombongan datang barengan. Gue beli roti tawar isi keju, enak banget, rotinya chewy dan kejunya pas. Bisa bayar dengan QRIS. Tas belanja gue penuh di rute ini.

8. Kopi Bis Kota

Dari Gelora, lurus melewati gang sempit dan akhirnya keluar kembali ke area pasar. Ada Toko Sedap Djaja yang menjual Kopi Bis Kota yang sudah berjualan sejak 1943. Yang menarik adalah kemasannya, menggunakan sampul buku coklat. Harga robusta 250gr Rp38.000. Di sini bukan coffee shop yang bisa untuk duduk manis, tapi toko kopi yang menjual kopi bubuk.
9. Es Tebak dan Sate Padang
Dari toko kopi, menuju ke makanan Padang, Sate Padang Ajo Jatinegara. Selain sate dan soto Padang, yang terkenal di sini adalah es tebak. Es tebak adalah minuman khas Minang seperti cendol berwarna putih dengan sirup merah dan susu kental manis (jadi berwarna pink). Gue ga coba es tebak dan sate padang di sini, karena melipir untuk makan siang di sebelahnya, Bakmi Lorong. Walking tour berakhir di sini.
10. Bakmi Lorong

Pemberhentian terakhir untuk makan siang setelah walking tour, Bakmi Lorong, karena lokasinya di lorong. Rasanya kayak nostalgia makan di sini, setelah belasan tahun, rasanya masih sama. Gue pesan mie ayam jamur Rp20.000, tambah baso Rp5.000, tambah pangsit Rp5.000. Bakminya sendiri bukan yang wow, tapi bumbunya yang wow buat gue, asin gurih, dan porsinya pas buat makan siang. Di sini hanya bisa bayar cash. Di sini banyak pengamen, jadi selama makan bisa 2-3 pengamen yang berbeda.
Jadi kesimpulannya walking tour di Passer Meester buat gue lebih banyak jajannya daripada jalannya. Tips: bawa uang cash, tas belanja, dan payung. Selain Passer Meester, rute walking tour yang banyak jajanan adalah China Town Glodok. Selamat jajan!