Staycation Tanjung Tinggi Belitung
Gue mau ke pantai, baca buku, tidur siang, dan lihat sunset, tujuan utama staycation kali ini. Oh tambah satu lagi, lari pagi di pinggir pantai. Ada 2 opsi, Bali atau Belitung. Akhirnya milih staycation di Tanjung Tinggi Belitung dengan pertimbangan lebih sepi. Selain itu sudah lama banget ga ke Belitung, terakhir sebelum Covid. Ini kali keempat ke Belitung, pertama kali tugas kantor dan libur Lebaran di 2013, trus waktu zamannya Sriwijaya Travel Pass di 2019. Sudah muterin hampir 1 pulau waktu itu, itinerary ada di sini. Trip kali ini judulnya staycation Tanjung Tinggi Belitung – on budget. Agenda utamanya cuma mantai, makan, mantai, makan.
Jakarta – Tanjung Pandan
Sebelum berangkat, sudah kontak rental motor dan booking penginapan. Motor sewaan gue diantar ke airport, harga sewa motor tergantung jenis motornya (kisaran 75-100 ribuan), dan ada biaya tambahan untuk antar jemput motor ke airport. Motoran dari airport ke pusat kota buat sarapan, sekitar 15KM.

Pusat kota yang gue maksud itu di sekitar Bundaran Satam, ini ikon Belitung. Batu satam berwarna hitam, berasal dari pecahan meteor yang sampai ke bumi dan ada reaksi dengan timah. Di kota ada beberapa toko yang jual ini sebagai oleh-oleh khas Belitung.

Buat yang pertama kali ke Belitung, sarapan “wajib” adalah Mie Atep. Buat gue Mie Atep rasanya light banget. Sarapan kali ini cobain Soto Belitung di Kedai Mak Janna, lokasinya sebelah dengan Kopi Akie dan Ketam HS. Soto Belitung itu kuning dengan santan yang isinya daging, kentang dan bihun. Biasanya dengan lontong, tapi pagi itu gue tanpa lontong. Seporsi Rp15.000 dan menurut gue rasanya enak dan porsinya pas untuk sarapan.
Tanjung Pandan – Tanjung Kelayang

Setelah sarapan, langsung ke HomestayBelitung di daerah Tanjung Kelayang, gue booking dari Airbnb. Jaraknya sekitar 24 KM dari Tanjung Pandan dengan rute lewat Tanjung Pendam. Sekarang sudah ada Indomaret di kota. Gue beli jas hujan sekali pakai, jaga-jaga hujan di jalan. Yang gue suka di sini jalanan bagus dan bersih. Dari Tanjung Pendam ke Tanjung Kelayang, lewatin rumah penduduk, beberapa toko, apotek dan ada Puskesmas.
Homestay Belitung

First impression, bersih! Bangunan baru 2 lantai, dimana lantai 1 adalah rumah pemiliknya dan kamar untuk tamu ada di lantai 2. Bangunan baru, kamar mandi dalam, dapat kamar yang ada jendela langsung ke balkon. Pemiliknya itu Bang Rizki, selain homestay, di sini ada penyewaan motor, jeep, paddle, dan jetski. Ada paketan island hopping juga, cerita island hopping bisa dibaca di sini. Baru bisa check-in di jam 2 siang, tapi bisa titip tas dulu, mau langsung ke pantai. Dari sini ke Pantai Tanjung Tinggi cuma 10 menit naik motor.


Pagi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (1)
Ini pantai favorit gue di Belitung, bersih, sepi dan menenangkan. Ada yang beda dari 8 tahun yang lalu sepanjang perjalanan ke pantai. Sudah semakin banyak warung makan, warung kelontong, dan juga ada coffee shop setelah penginapan Lor Inn. Yang paling eye catching itu jembatan sebelum Lor Inn, warna merah kuning dan banyak yang foto di situ. Gue ga berhenti, langsung ke Pantai Tanjung Tinggi. Hari pertama ke Tanjung Tinggi.

Sampai di Tanjung Tinggi sekitar 10.30, pantai masih sepi. Di sini ga ada pintu masuk dan bebas mau parkir dimana. Karena kelihatan bingung cari parkiran (agak lupa), ada bapak-bapak yang datang dan minta biaya parkir Rp5.000. Biar cepat, gue kasih aja, aslinya ga ada patokan harga parkir seperti ini. Jalan ke arah batu besar yang dulu dipakai shooting Laskar Pelangi. Agak kaget lagi karena waktu masuk di antara batu dan mau ke satu spot, ada papan QRIS dan seorang bapak yang nunggu di situ. Dinamakan “Batu Bakpao”, baru tau sekarang ada namanya. Agak males bayar QRIS untuk satu spot yang pernah gue datangi dan ada opsi spot lainnya, gue belok ke arah lain.

Sambil nunggu jam makan siang yang masih sekitar sejam, gue baca buku di sini. Sudah siap dengan kain pantai sebagai alas duduk. Pilih spot di bawah pohon dan ada batu besar untuk sandaran. Spotnya di balik batu-batu besar dengan view arah pantai, sesekali ada pengunjung melintas, selebihnya damai.
Warung Ilham

Jam makan siang, gue dapat rekomendasi dari Bang Rizki, makan siang di Warung Ilham, milik ibunya. Menu yang direkomendasikan itu cumi goreng tepung, ikan bakar, dan tumis kangkung. Lupa kalau sendiri, pesan 3 menu itu, banyak banget ga habis dan bungkus lauk buat makan malam. Enak banget, semuanya berbumbu. Ada menu khas Belitung, sup gangan, sup ikan kuah kuning dengan nanas. Siang itu panas banget, malas makan yang berkuah, lebih milih es kelapa muda.
Sunset di Tanjung Tinggi Belitung

Setelah makan siang, gue balik homestay tidur siang, sekitar 16.30 balik ke Tanjung Tinggi buat sunset. Spot sunset favorit gue di Tanjung Tinggi ada di sebelah kiri pantai, masuknya dari balik batu, agak tersembunyi. Ada beberapa orang di situ, ada yang berenang, mancing, dan yang nungguin sunset aja di 17.50. Dapat sunset tipis, cukup senang, udah lama banget ga lihat matahari terbenam di pantai.
Lari di Pinggir Pantai

Ini salah satu wishlist gue di Belitung, pengen lari di pinggi pantai. Di hari pertama sudah cek jarak tempuhnya, sudah siapin sepatu dan kaos lari, dan ternyata besok paginya hujan. Sad! Gue tunggu sampai sekitar 6.30 dan hujan berhenti, tapi masih berangin. Tetap lari dengan rute Tanjung Tinggi – Lor Inn. Ga terbiasa lari di pinggir pantai berangin, sakit perut, baru KM 3, tengok kiri kanan belum ada warung yang buka, tahan sampai hampir KM 5. Gongnya, panik setelah lihat jam, ternyata ada motor, buru-buru menghindar, napak ga pas, dan…. kaki keseleo. Ga sampai jatuh, tapi ankle kanan sakit banget, langsung berhenti, duduk, angkat kaki. Shit happened haha baru hari kedua, jadi mikir “tau gitu gue lanjut tidur aja tadi pagi”.
Pagi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (2)

Belum bengkak, tapi mulai hangat, oke, balik ke penginapan dan beli es batu. Sebelum pulang, gue main ke pantai sebentar, menghibur diri celup-celup kaki dan minum Milo. Pagi-siang hari kedua gue habiskan dengan kompres kaki dan untungnya ada voltaren di tas gue, cukup membantu. Karena sarapan paginya agak telat, siang itu masih kenyang, jadi gue memutuskan makan siang nanti saja.
Tidur Siang di Pantai

Kaki gue ga parah-parah amat karena masih bisa naik motor, masih bisa jalan, naik turun tangga, walaupun pincang. Rencana hari kedua siang itu adalah tidur siang di pantai, lanjut baca buku lagi, dan terlaksana. Dengan nenteng kantong es batu buat kompres, bawa cemilan dan bir dingin, gue cari spot di sebelah kiri Pantai Tanjung Tinggi (sisi barat). Teduh, di bawah pohon, dan bersih. Ga terlalu ramai juga.
Yang gue inget sampainya sekitar 11.30, setelah baca buku, gue lihat jam masih 11.45. Lanjut tidur siang sekitar 30 menit, masih ga nyadar kalau ternyata jam gue mati (another zonk). Sadarnya karena lapar banget, ternyata pas lihat HP sudah 14.30, baiklah… Spot ini terlalu nyaman buat tidur siang dan bengong, bisa pasang hammock juga di sini lain kali.
Makan Siang: Gonggong

Gue mau seafood, tapi ga mau ikan dan cumi lagi, opsinya ada udang dan gonggong, gue pilih gonggong karena udang banyak di Jakarta. Gue pesan gonggong saus padang dan tumis genjer. Lelah ternyata makan gonggong saus padang, pertama si gonggong ini makannya perlu ditarik dengan tusuk gigi supaya dapat dagingnya dan sering putus pas ditarik, kedua saus padangnya belepetan pas gonggong diangkat. Di sini gue lebih suka kangkung daripada genjer.
Sunset di Pantai Sebrang Lor Inn

Pas perjalanan pulang ke homestay, pas sunset, cantik banget warnanya pink agak ungu. Gue berhenti sebentar buat lihat sunset. Parkir motor persis di pinggir pantai bareng dengan motor warga lokal. Sunset gratis, no pungli atau biaya parkir.
Nasi Kuning di Tanjung Kelayang

Malam itu kaki gue berasa agak sakit karena siang ke sore banyak berdiri. Gue tidur dengan kaki di atas bantal ditumpuk tas baju supaya posisi kaki lebih tinggi dari jantung, untuk mengurangi bengkak. Begitu bangun mau ke kamar mandi, sakit pas jalan dan sekitar mata kaki bengkak, jadi pagi itu memutuskan ke klinik, siapa tau jual dekker atau sejenisnya untuk compression.

Pagi itu beli sarapan nasi kuning sekalian cek lokasi Puskesmas, rekomendasi istrinya Bang Rizki (kalian sangat membantu, makasih banyak!). Nasi kuningnya enak, harganya belasan ribu tergantung lauk apa yang dipesan. Pas banget si ibu ini baru panen jambu, jadi gue sekalian beli jambu buat dibawa ke pantai.
Pagi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (3)

Kemarin pagi gagal mantai, pagi ini terlaksana. Gue jalan ke belakang Batu Laskar Pelangi dan sarapan nasi kuning di situ. Di bawah pohon, dengan pemandangan teluk, damai banget, tenang, dan adem sampai… rombongan outing kantor (water heater brand) datang, yes ada yang ke pantai sepagi itu selain gue. Karena ga nyaman, gue masuk ke air persis di teluk depan gue. Ternyataaa guide mereka jelasin sejarah batu granit tanjung tinggi persis di teluk itu. Astaga, mati gaya, berasa gue bagian dari objek yang dijelasin, jadi gue berenang bergeser ke balik batu dengan sisa sarapan dan tas gue masih di bawah pohon. Beberapa menit setelah mereka pergi, gue balik ke penginapan.
Puskesmas dan Apotek di Tanjung Binga

Setelah mandi, gue langsung ke Puskesmas, ternyata Puskesmas ga jual obat, harus konsul dokter dan apotek ga ada stok dekker. Gue cuma bisa menemukan perban di toko kelontong. Dengan si perban itu sekitar mata kaki dililit kayak angka 8 supaya agak lebih stabil. Ga nyaman tapi mau gimana lagi, ditambah tentengan es batu di plastik. Rasanya pengen balik Jakarta, gue balik ke penginapan sambil mandangin kaki yang dililit perban.
Sunset di Coffee Rocks Belitung

Gue bosan! Hahaha yakali jauh-jauh ke Belitung gue di kamar doang. Mau main air ke pantai tapi males kalau perbannya kena pasir dan basah. Jadi setelah makan siang gue ke coffee shop. Duduk manis dari siang sampai sunset, hal yang ga pernah gue lakuin dalam kondisi normal. Emang badan gue minta istirahat kayaknya.

Gue pesan es kopi susu, roti bakar (ini enak!) dan bengong mandangin langit dan laut dari biru, orens, merah sampai ungu. Coret-coret gambar, baca buku, dan nunggu langit berubah warna. Setelah sunset gue balik ke penginapan. Malam itu motor sewaan gue balikin karena besoknya gue minta tolong Bang Rizki antar ke bandara dengan mobil.
Pagi di Pantai Tanjung Tinggi Belitung (4)

Hari terakhir di Belitung, gue balik lagi ke Tanjung Tinggi. Bang Rizki mau bawa jetski ke pantai dengan Jeep, jadi gue sekalian ikut. Happy! Paling ga, ada experience baru gue naik Jeep di Belitung, seru sih overland naik Jeep di sini, Bang Rizki ada paket Jeep Belitung. Sayangnya pagi itu agak mendung, jadi pantai sedikit keruh. Gue main air bentar, jalan di balik batu dari sisi timur ke barat karena air surut, foto beberapa spot pantai dan balik ke penginapan. Cukup menyenangkan hari terakhir gue, mungkin next time bisa coba SUP di sini dengan kondisi kaki yang normal pastinya.
Tanjung Kelayang – Tanjung Pandan

Dari penginapan gue langsung ke kota, makan siang di sana. Makan siang mie ayam yang tekstur mienya beda dengan mie ayam di Jakarta, 20 ribuan, rekomendasi Bang Rizki juga. Buat yang pertama kali ke sini bisa coba Rumah Makan Timpok Dulu buat makan siang. Biasanya hari terakhir sebelum ke bandara bisa sekalian beli oleh-oleh. Berhubung malas pakai bagasi, jadi gue ga belanja banyak dan langsung ke bandara. Biaya antar dari Tanjung Kelayang ke Bandara dengan mobil Rp350.000.
Oleh-oleh Belitung
Ada beberapa makanan yang biasa dibawa sebagai oleh-oleh khas Belitung. Yang pertama ketam isi. Ada beberapa merk ketam di sini, yang terkenal Adena, ini ada di Shopee btw. Yang kedua, terasi udang. Gue beli ini karena waktu makan tumis kangkung di pantai enak banget kangkung terasinya. Yang ketiga, kerupuk ikan. Dijual di beberapa toko, gue beli yang homemade di istrinya Bang Rizki. Yang keempat, kopi, banyak dijual di toko oleh-oleh.