Karasawa Cirque Trekking dan Yokoo Sanso
Myojin Bridge – Yokoo Sanso

Melanjutkan trekking cantik di Kamikochi, tujuan gue hari itu adalah Yokoo Sanso dan impromptu di hari berikutnya ke Karasawa Cirque. Begitu lewat Myojin Bridge, jalur ga seramai Kamikochi tadi, lebih sepi dan kebanyakan orang di trek ini bawa ransel atau carrier. Ada beberapa penginapan yang gue lewati di sebelum sampai di Yokoo Sanso. Rencana awal adalah trekking santai, ternyata jadi tempat latihan mental dan fisik dalam waktu beberapa jam.

Jalurnya tanah dan batu rapih, aman banget buat trekking ceria. Jujur, agak bosan karena gue jalan pelan bawa carrier, HP masuk ke tas biar fokus jalan. 3.5 jam jalan pelan dari Myojin Bridge. Siang itu cerah ga berangin, gue jalan tanpa jaket masih aman banget. Sampai di Yokoo Sanso sekitar 13.50 dan baru bisa check-in di 14.00. Rencana awalnya mau santai di penginapan, tapi ternyata di Yokoo Sanso maksimal check out di jam 8 pagi. Karena penginapan berikutnya baru bisa check-in di jam 2 siang, gue berencana one day trip ke atas sambil nunggu sore.
Ranger Hut

Setelah check-in di Yokoo Sanso, gue ke Ranger Hut untuk lapor. Wisatawan asing dan yang pertama kali harus lapor ke Ranger Hut, akan ada pengecekan itinerary selama di sana dan kelengkapan peralatan yang dibawa. Sekalian gue tanya rute yang bisa one day trip untuk orang yang pertama kali ke sini. Ms. Noriko (gue kenalan setelah turun dari Karasawa) yang ngecek itinerary dan peralatan gue menyarankan gue ke Karasawa Cirque, pemandangannya oke dan aman karena ada Ranger Hut juga di sana. Bisa lunch juga di sana, ada 2 opsi Karasawa Hyutte dan Karasawa Goya (ada soft cream dan pork ramen). Happy banget dengan opsi itu, oke siap ke atas besok!
Yokoo Sanso

Setelah dari Ranger Hut balik ke penginapan, buat beresin kasur, jadi setelah makan malam bisa langsung tidur. Setiap kamar terdiri dari 4 bunk bed, jadi muat untuk 8 orang, dan terpisah kamar pria dan wanita. Di kamar gue hanya bertiga, kenalan dan kami ngobrol lewat Google Translate sore itu hahaha.. Di setiap lantai ada toilet dan tempat untuk isi ulang air minum. Di lantai dasar ada ruang bersama, ruang makan, ruang pengering, dan indoor onsen.


Waktu check-in antri rapih, dikasih handuk (boleh dibawa pulang) untuk indoor onsen. Yap, indoor onsen (ga ada kamar mandi di sini), tidak boleh pakai sabun dan sampo, hanya dibuka dari jam 4 sore sampai jam 8 malam. Pas banget, setelah berendam di onsen, waktunya makan malam. Setiap makan boleh nambah nasi sepuasnya, yes sepuasnya. Yang menarik adalah design kertas sumpit bergambar deretan gunung di Alpen Utara Jepang.



Dari sekian banyak penginapan di sana, kenapa milih Yokoo Sanso? Karena lokasinya strategis di tengah jalur pendakian, bukan yang di atas Karasawa, tapi bukan di area wisata Kamikochi yang ramai. Lihat dari website dan review oke, jadi gue pilih di sini, satu malam dengan makan malam dan sarapan. Yokoo Sanso bisa di-booking 1 bulan sebelumnya untuk online booking. Selain bunk bed, ada opsi untuk sewa camping ground, tidak termasuk tenda.
Karasawa Cirque

Berbekal peta yang sudah dijelaskan Ms. Noriko, gue berangkat dari Yokoo Sanso setelah sarapan, sekitar 6.30. Trek awal masih menyusuri Sungai Azusa sampai akhirnya di Jembatan Hontanibashi, jalur lebih sepi dari hari sebelumnya. Yang lewat jalur ini rutenya akan muncak ke gunung-gunung di atas, atau paling ga, sampai Karasawa Cirque. Gue istirahat sebentar di sungai sebelum lanjut, karena setelah jembatan ini jalur menanjak. Dari peta di atas, bisa dilihat jalur dari Yokoo sampai ke titik sekitar Karasawa Hyutte berwarna biru, jalurnya jelas berupa tanah, akar, dan batu. Setelah masuk ke Karasawa Cirque, jalur berwarna kuning, artinya lebih challenging.


Dari Hontanibashi bridge, jalur mulai menanjak, medanya batu, sesekali bonus jalur datar. Naik terus sampai ke Karasawa Cirque. Info dari ranger di bawah, sebaiknya ke Karasawa Hyutte dulu, kemudian ke Ranger Hut, baru ke Karasawa Goya. Karena mulai lapar, di pertigaan Karasawa Hyutte dan Goya, gue belok ke Goya karena menu lunch di sana lebih menarik. Risikonya (taunya belakangan), karena memotong jalur langsung ke Goya, jadi gue ga mampir ke Ranger Hut.

Trek menuju Karasawa Cirque berupa batu, ada jalurnya, tapi harus lihat lebih detail supaya ga keluar jalur, ga semua trek di sini ada tali pembatas seperti di Fuji. Kalau keluar dari trek, batunya ga stabil dan agak membingungkan hahahah.. Berhubung Karasawa Goya terlihat jelas dari bawah dan masih cerah, jadi cukup mudah buat gue sampai di sana walaupun keluar dari trek (sebaiknya jangan dicontoh bagian ini).
Karasawa Goya

Setelah melewati trek batu yang ga stabil tapi aman, akhirnya sampai! Early lunch di 10.30 supaya ga kesorean nanti pas turun. Sesuai dengan rekomendasi ranger di bawah, gue pesan pork ramen dan soft cream, kapan lagi makan es krim di ketinggian 2.300an dengan pemandangan seperti ini. Ada opsi indoor dan balkon. Tersedia snack, minuman, dan makan siang. Menu makan siang tersedia dari jam 10.00-16.00:
- Beef curry rice with soup ¥1.200
- Pork bowl with soup ¥1.200
- Ramen with roast pork ¥1.400


Karasawa Cirque

Gue istirahat di sini agak lama, sampai jam 12 karena pemandangannya terlalu enak buat bengong. Melanjutkan trek ke tujuan utama, Karasawa Cirque, lewat tangga di belakang hut. Awalnya trek cukup jelas karena setapak di antara pohon, kemudian ada percabangan, gue bingung. Ternyata ada penanda di batu tapi tipis banget, lingkaran putih di sebelah kanan, tapi ga lihat waktu itu, jadi ambil trek kiri. Ada titik-titik kuning di batu, gue kira ini penanda jalur, jadi gue ikuti. Ada rombongan opa-oma yang ngomong ke gue, tapi pakai bahasa Jepang jadi gue ga paham apa maksudnya, ternyata gue salah jalur.

Setelah sekian menit jalan, baru sadar titik-titik kuning ini menyebar di banyak batu dan batu yang diinjak goyang semua. Mulai curiga ini bukan trek, titik kuning ini bukan penanda jalur, gue pegang dan ternyata bisa dihapus (baru tau pas pulang, ini lumut). GUE NYASAR! Harusnya tadi belok kanan dan naik ke atas. Gue cek HP, ga ada sinyal, tapi kelihatan titik gue di Google Map itu bukan di jalur, di tengah lingkaran. Tarik napas dan tenangkan diri. Agak panik karena lihat jam sudah 12.30 dan ga ada orang lain di sekitar situ. Target gue maksimal 13.00 harus sudah sampai di trek yang benar, kalau belum, gue tiup peluit supaya ada bantuan atau dijemput heli. Untuk trekking di Jepang ini, gue pakai trekking insurance worldnomads. Ujian mental banget nyasar di gunung sendirian, gimana caranya tetap tenang dan cari jalur yang benar. What doesn’t kill you make you stronger, right?

Yang ada di kepala gue, lurus saja sampai di ujung trek yang ada pohon, pilih batu yang stabil untuk pijakan. Thank God, lihat tali warna hijau di bawah pohon, berarti sudah di jalur yang benar. Gue turun semi lari, ikuti tali dan lihat lagi lingkaran putih di batu. Sampai akhirnya ketemu tangga batu, lega. Istirahat sebentar di batu, atur napas, dan bersyukur banget gue bisa nemu jalur yang benar, ga sampai di-rescue ranger apalagi helikopter.
Karasawa Hyutte

Sekitar 13.20 sampai di Karasawa Hyutte, penginapan dan restoran. Supaya ga buang waktu, gue mampir untuk ke toilet, isi air (tap water), dan masukin HP ke carrier. Target gue sampai di Jembatan Hontanibashi maksimal jam 3, supaya ga kena gelap di hutan arah penginapan. Oke dengan asupan dan hidrasi cukup, gue turun semi lari. Berat rasanya karena bawa carrier, pakai hiking boots dan 1 trekking pole untuk nahan. Selama masih papasan dengan pendaki yang naik berarti di jalur yang benar. Berusaha ga sering cek HR dan altitude, yang penting gue bergerak turun.

Gue sampai di jembatan sekitar 14.50 artinya masih 10 menit lebih cepat dari target. Langsung lepas sepatu dan kaos kaki, rendam kaki di sungai dingin, enak banget. Lumayan untuk recovery instant sebelum lanjut jalan. 15.00 gue jalan ke Yokoo Sanso, mampir toilet publik, dan lanjut jalan ke penginapan berikutnya, Tokusawa En. Beruntung di jalan ke Tokusawa ketemu ranger, jadi gue jalan balik ke sana bareng dia dan ga perlu buka peta lagi, thanks Ms. Noriko. Baru nyadar, kuku di jempol kiri menghitam sebagian karena semi lari pas turun.
Tokusawa En

Satu kata untuk Tokusawa En, WOW! Ini penginapan paling oke selama gue di gunung, memang ada harga, ada kualitas. Untuk reservasi bisa melalui websitenya, gue ambil yang shared room, ada opsi camp site only atau camp site dengan tenda. Proses bookingnya cukup unik, mengisi form di website kemudian akan dikirim email konfirmasi yang harus dibalas. Setelah membalas email itu, penginapan akan mengirimankan link pembayaran, gue bayar dengan kartu kredit.


Gue tamu yang terakhir check-in, pas jam 5 sore, sudah ditunggu resepsionis di depan penginapan. Setelah check-in dan taruh carrier di kamar, gue ke indoor onsen. Wow! Ada kaca besar langsung ke arah hutan, nyaman bangettt! Setelah trekking seharian dan nyasar, berendam air hangat dengan pemandangan hutan rasanya rewarding banget. Menariknya, hair dryer di sini Dyson, fancy untuk penginapan di dalam hutan.


Sudah bersih dan wangi, gue siap untuk makan malam. Ga cek menunya apa waktu pesan, jadi cukup kaget pas menu makan malam disajikan. Salad, sup, steak (gue kira punya bapak sebelah gue), soba (ga kefoto karena datang terakhir), grilled iwana. Bahagia banget malam itu dan ini adalah makan malam paling mewah dan cantik selama gue trekking. Menu sarapan juga ga kalah menarik. Karena gue sendiri, jadi gue sharing meja dengan tamu lain, jadi bisa ngobrol setelah makan.


Yang sedikit kurang nyaman di sini furniture kayu jati dan ada boneka-boneka hahahahah gue takut! Jadi sebisa mungkin gue ga keluar lagi pas malam ke toilet. Selebihnya oke banget, tenang dan rapih, makanan enak, service oke. Setelah sarapan, langsung check-out dan jalan balik ke Kamikochi. Gue ambil bus yang sore ke Tokyo. Menurut gue kesorean, ternyata jalan balik jauh lebih cepat karena ga pakai foto-foto kayak waktu berangkat. Mau balik lagi? Mau, tapi sampai ke puncaknya dan nginap di penginapan atas.