Trip Mentawai ke Suku Pedalaman

Setelah pendakian Kerinci, kembali ke Padang untuk istirahat, kemudian lanjut ke Mentawai. Rencana awal itu 3 hari 2 malam di rumah Sikerei (Pulau Siberut) dan 2 hari 1 malam di Tuapejat (Pulau Sipora). Gue ke Mentawai berdua dengan teman gue yang ketemu di Nepal 2023 sebelum ke EBC, namanya Pita. Tujuan gue ke Mentawai, mau ketemu dan ngobrol dengan Sikerei. Yap, gue ketemu Aman Ibbuk.
Cara ke Mentawai: Padang – Siberut


Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Muaro Padang dengan kapal Mentawai Fast jam 7 pagi. Harga tiket Mentawai Fast Rp280.000. Perjalanan 6 jam dari Padang ke Siberut dengan mampir di Pelabuhan Sikabaluan untuk makan siang, Rp45.000 dengan lauk ikan dan ayam. Gue pakai trip operator (TO) ada guidenya, tapi bisa banget jalan sendiri dan kontak langsung ke Suku Mentawai, Keilak, anak kedua Aman Ibbuk.

Tentang Suku Mentawai

Mau cerita sedikit tentang Suku Mentawai. Suku Mentawai adalah salah satu suku tertua di Indonesia yang tinggal di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Gue menginap di Uma (sebutan rumah panggung tradisional mentawai) milik Aman Ibbuk. Ibbuk adalah nama anak pertama sehingga ayahnya dipanggil Aman Ibbuk dan ibunya dipanggil Bai Ibbuk. Aman Ibbuk adalah seorang Sikerei, yaitu pemimpin ritual adat Suku Mentawai dan juga bisa mengobati. Ada beberapa Sikerei di Mentawai. Suku Mentawai menganut kepercayaan Arat Sabulungan, yaitu setiap benda di alam ini memiliki roh, sehingga mereka sangat menjaga hubungan yang baik antara alam dan manusia.
Tato Mentawai dan Gigi Runcing

Alasan gue mau ke Mentawai itu mau merasakan hidup yang jauh dari kota dengan fasilitas yang terbatas dan bertemu dengan mereka yang masih mempertahankan tradisinya. Mentawai terkenal dengan tatonya. Tato Mentawai dianggap sebagai tato tertua di dunia. Tato merupakan identitas mereka, seperti pakaian yang dipakai seumur hidup. Setiap tato di tubuh mereka memiliki arti. Tato bergaris horizontal di paha melambangkan papan lantai Uma yang dibuatnya, busur di dada (berburu), duri rotan di lengan atas, aliran air di dagu sampai leher, dan matahari di bahu. Sedangkan untuk wanita, ada tato kail di jarinya karena mereka menangkap ikan. Boleh ga sih orang luar Mentawai punya tato serupa? Tidak ada larangan namun maknanya akan berbeda. Selain tato, sebagian perempuan Suku Mentawai memiliki gigi yang diruncingkan, sebagai lambang kedewasaan dan kecantikan.
Pelabuhan Muara Siberut ke Desa Buttui


Sampai di Pelabuhan Siberut (Muara) sekitar jam 2 siang. Karena cuma berdua, kami sewa motor, bukan mobil pick-up. Gue dengan Keilak dan Pita dengan guide dari Padang. Dari jalanan aspal berubah jadi tanah, ga kebayang kalau hujan gimana (ternyata pas pulang hujan!). Setelah satu jam sampai di Desa Uggai. Ga ada dermaga, turun di tebing yang ga terlalu tinggi dan cukup berlumpur menuju sungai. Kemudian lanjut naik pongpong (kapal kayu) menyusuri Sungai Buttui menuju Desa Buttui selama sekitar 30 menit. Pongpong menepi di pinggir sungai lalu kami jalan kaki menuju Uma.


Uma Suku Mentawai

Begitu sampai di Uma, disambut oleh Amman Ibbuk, Bai Ibbuk, dan Susu (babi berumur 3 tahun yang mereka pelihara), 2 ekor anjing, Rindu dan Manja. Amman Ibu beternak ayam dan babi yang hasilnya dijual untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Sedangkan Susu didapat dari hutan dan dipelihara seperti anjing.

Uma berbentuk panggung dengan bagian depan seperti teras dengan tengkorak rusa di bagian atas. Sekelilingnya ada kursi dan meja panjang untuk meletakkan makanan dan minuman, di sini tempat mengobrol. Bagian tengah ada perapian dan tempat kami istirahat malam itu (pakai kelambu), di atas perapian ada banyak tengkorak monyet hasil buruan. Di bagian atas ruang tengah ada satu ruangan bisa digunakan sebagai kamar oleh anak terakhir mereka. Kemudian bagian dapur, di sini tempat mereka memasak, masih menggunakan kayu bakar. Sore itu Bai Ibbuk dan Ibbuk sedang membuat kapurut, sagu parut yang dibungkus di daun sagu kemudian di bakar. Ini makanan pokok mereka selain umbi-umbian.

Toilet dan Kamar Mandi di Mentawai

Di Uma yang gue tempati sudah ada toilet, bangunannya di sebelah dapur. Kalau mau coba toilet yang asli, masih ada juga, berupa 2 kayu disusun di atas sungai kecil dengan dikelilingi daun sagu yang sudah kering. Gue coba dua-duanya. Untuk kamar mandi juga ada 2 opsi, bilik kamar mandi dengan tembok 1.5 meter dan ember atau pancuran, gue cobain juga dua-duanya. Untuk toilet tetap lebih nyaman yang di bangunan baru, kalau kamar mandi lebih seru air pancuran dari bambu. Karena dari sumber mata air, jadi air di sini ngalir terus, ga ada keran air.


Malam di Mentawai
Sore begitu sampai, gue mandi dan keramas di pancuran, baju kotor dicuci di kamar mandi yang ada ember. Bisa jemur baju di dekat teras, perlu diikat supaya tidak jatuh ke area ternak babi. Untuk makan malam, guide pesan makanan dari sebrang sungai, menu makanannya nasi, ayam goreng, kentang goreng, terong goreng, timun, dan sambal. Setelah makan malam dan lihat keluar, bintangnya jelas banget, banyak banget. Ga ada suara kendaraan, cuma tonggeret dan sesekali suara babi. Malam itu guide tidur duluan dengan alasan capek kurang tidur karena kapal pagi, agak kurang sopan, tapi berusaha dimaklumi.
Ulat Sagu dan Kabit Suku Mentawai

Jadi paket trip ini termasuk beberapa aktivitas, yang pertama adalah mencari ulat sagu. Setelah sarapan kami menyebrang sungai dengan pongpong dan masuk hutan. Kami dipinjami sepatu boot karena akan keluar masuk hutan. Dari hutan, masuk ke desa dan melewati rumah tetew (panggilan untuk nenek) yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan tinggal bersama anaknya silumang (panggilan untuk janda). Yang menyedihkan di sini banyak tiang listrik, ada MCB, tapi ternyata cuma hiasan. Katanya dulu pernah nyala, tapi sudah lama ga berfungsi.

Keilak dan Aman Ibbuk memiliki 1 batang sagu yang sudah dibusukkan. Begitu batang sagu ini dibelah, banyak banget ulat sagunya, di sini disebut tamra. Dari yang sekecil kuku sampai sebesar jempol, dikumpulkan hampir 2 kg. Gue cobain yang masih mentah, rasanya juicy kayak air kelapa dan tekstur ulatnya seperti kulit ayam yang tipis. Aman dimakan mentah selama ga berlebih, tapi ada sebagian yang alergi ketika makan ini. Selebihnya dibawa ke Uma untuk dibakar dan direbus. Gue paling suka yang dibakar, teksturnya mirip udang, kurang suka yang direbus karena lembek. Ulat sagu bakar + kapurut, nikmat banget sore itu.


Kabit Suku Mentawai

Selanjutnya Amman Ibbuk dan Keilak mengambil kulit kayu dari pohon Baiko untuk dibuat kabit. Kabit adalah pakaian laki-laki seperti cawat. Kulit kayu ini dipukul-pukul sampai pipih, kemudian dicuci di sungai, dijemur hingga kering supaya bisa dipakai. Uniknya adalah kabit yang dipakai Sikerei hanya boleh dibuat sebelum menjadi Sikerei. Jadi Amman Ibbuk membuat ratusan kabit sebelum menjadi Sikerei.
Siang itu tiba-tiba hujan deras dan Keilak motong daun pisang untuk dijadikan sebagai payung. Wow, ini pengalaman pertama gue pakai payung daun pisang, kayak di buku pelajaran waktu SD. Kami makan siang di rumah tukang masak trip ini kemudian berkunjung ke Uma Sikerei lainnya, Aman Lepon (nama anak pertamanya Telepon).
Memancing dan Berburu

Air sungainya naik karena hujan deres, jadi untuk bisa balik ke Uma, Keilak buka jalur baru di hutan supaya lebih dekat menyebrang sungai. Banyak tanaman putri malu dan ranting pohon tajam, kaki gue baret kiri kanan dari betis sampai ke paha karena pakai celana pendek. Untuk tamu, sebaiknya pakai legging ketika ada aktivitas di hutan. Sungainya cukup dalam sore itu karena sehabis hujan, kami pindah dari sungai ke anak sungai di depan Uma, hasil tangkapannya ikan kecil, udang dan kodok.

Lanjut dengan aktvitas terakhir, berburu. Aman Ibbuk dan Keilak membuat racun yang dioleskan ke ujung panah. Ada beberapa bahan racikan racun, salah satunya cabe rawit. Setelah dioles di ujung panah, kemudian dikeringkan di perapian, baru siap digunakan. Begitu racun ini bercampur dengan darah, maka akan langsung bereaksi dan tidak ada penawarnya. Kami naik ke bukit untuk simulasi berburu, karena kalau berburu aslinya memerlukan waktu yang lama. Guide ini bawa kamera DSLR, tapi semua fotonya blur dan sampai sekarang foto video dari HP-nya ga dishare.
Malam kedua dan nyanyian Suku Mentawai
Malam itu malam terakhir kami di Mentawai, makan malam bareng dengan keluarga Aman Ibbuk. Selesai makan, lanjut ngobrol dan nyanyi. Pita mulai nyanyi, kemudian guide, lalu Aman Ibbuk dengan bahasa Mentawai. Panjang banget lagu yang dinyanyikan Aman Ibbuk, sekitar 8 menit. Setelah selesai, gue penasaran tanya apa arti lagu itu. Ternyata… lagu untuk memanggil roh yang sudah meninggal, untuk dipanggil pulang ke rumah dan didoakan. Hahaha gue shock dan diam seketika, malam itu gue tidur agak nempel ke Pita. Malam kedua juga si guide tidur lebih awal lagi, kali ini ga paham lagi. Pertama kali ikut trip yang guide ga profesional, bawa tamu tapi ditinggal tidur duluan.

Hari Terakhir di Mentawai

Pagi itu kami bersiap pulang sekitar jam 8 setelah sarapan. Gue dan Pita beli gelang dari batang pakis seharga Rp50.000, mirip dengan gelang handam Baduy. Rencana mampir di Air Terjun Kulukubuk, searah dengan perjalanan ke pelabuhan. Begitu turun dari pongpong, ternyata pinggir sungai lumpurnya dalam sampai hampir sedengkul. Gue nunggu Keilak atau adiknya untuk bantu naik, si guide kali ini berinisiatif mau nolong karena sudah naik duluan. Niatnya baik, tapi ternyata kakinya ga cukup kuat, jadi sebelum tangannya bantu gue, dia kepeleset dan nendang batu sebesar kepalan tangan. Sialnya batu itu kena jempol kaki kiri gue dan seketika memar. Shit happened, jalan pelan dan berusaha tenang karena masih mau ke air terjun dan ke pantai (rencananya).
Air Terjun Kulukubuk

Ga ada loket, ga ada penjaga, cuma gapura saja. Jalan menuju ke air terjun berupa semen dan tangga, cukup licin, banyak lumut dan banyak daun. Karena habis hujan, airnya cukup deras tapi keruh. Hari itu hanya kami berempat. Sekitar 30 menit di situ kemudian kembali ke gapura. Motor Pita dan guide sudah berangkat, waktu motor gue dan Keilak mau berangkat tiba-tiba kami diminta bayar Rp50.000. Ga ada tiket, ga ada penjelasan, biar cepat beres gue bayar Rp50.000 karena sudah mulai gerimis. Hujan cukup deras di perjalanan ke pelabuhan.

Mentawai – Padang
Begitu sampai di dekat pelabuhan, info dari Guide kapal ke Sipora perbaikan mesin jadi ga ada jadwal kapal hari itu ke Sipora dan kami harus balik ke Padang. Kapal Mentawai Fast ke Padang di 11.30 dan kami sampai di pelabuhan 11.25. Dengan jempol kaki kiri yang memar, gue jalan cepat ke kapal dan untungnya masih keburu. Gagal mantai di Mentawai, tapi dapat pengalaman makan ulat sagu dan masuk hutan, mungkin lain waktu.
Trip Operator Mentawai
Disclaimer: Tulisan ini adalah blog pribadi, bukan komersil. Apa yang dituliskan sesuai dengan pengalaman pribadi penulis. Waktu dan pengalaman di destinasi yang sama dengan trip yang sama bisa memberikan pengalaman yang berbeda.

Gue ga bisa merekomendasikan TO atau guide gue kemarin karena komunikasi kurang oke dan tidak profesional. Sampai H-2 keberangkatan gue belum dapat harga final karena dia katanya nunggu 2 tamu lagi yang dimana 2 tamu ini ga ada kabar. Kamar penginapan di Sipora berubah H-1 katanya penuh, tapi gue cek di aplikasi masih bisa dipesan jadi gue pesan sendiri. Ketika batal ke Sipora, ada kelebihan uang penginapan dan dia maksa sebagai tip, gimana bisa kasih tip kalau gue dan Pita ga puas dengan service-nya. Ditambah recovery jempol kaki kiri lebih dari 2 minggu. Kalau mau cek di Instagram, akun guide ini sudah ganti nama sekitar 10 kali. Jadi gue lebih rekomen kontak langsung ke orang lokal, salah satunya Keilak, untuk kesejahteraan hidup mereka tanpa ada perantara.